Pertemuan

you-and-me_large

Tuhan mempertemukan jodoh kita dengan caranya masing – masing. Ada yang bertemu dengan cara biasa saja, ada juga yang luar biasa, bahkan ada pula yang tidak terduga. Kadang pula, kita dipertemukan lewat pertemanan yang panjang. Ada pula, yang baru dipertemukan melalui sebuah perkenalan, baik berkenalan sendiri ataupun dikenalkan oleh orang lain. Bahkan di era digital seperti ini, ada pula yang dipertemukan lewat sosial media. Apalagi sekarang juga mulai banyak yang menawarkan jasa, semacam biro jodoh.

Lalu, bagaimana aku dan kamu nanti?

Beberapa hari yang lalu, aku bertanya pada Bapak. Bagaimana Bapak dulu dipertemukan dengan Ibuku, hingga akhirnya mereka menikah.

“Dulu, pertama kali bertemu dengan Ibumu, bapak langsung jatuh cinta sama Ibumu. Dulu Ibumu seorang pedagang pakaian keliling di kampung – kampung. Ibumu cantik waktu masih muda dulu. Bapak terus minta dikenalkan dulu sama Ibumu. Tidak sampai lama, Ibu menerima Bapak. Ya, akhirnya menikah. Walaupun saat itu banyak laki – laki lain, yang juga naksir sama Ibumu. Wajar saja, Ibumu termasuk kembang desa di kampung. Bahkan ada pula beberapa kerabat keluarga Ibumu yang menolak Bapak. Karena Bapak waktu itu dari keluarga sederhana dan secara fisik tidak terlalu ideal. Tapi Ibumu tetap yakin menerima Bapak.”

“Hmmm… Jadi tidak perlu ada berpacaran dulu kayak anak muda zaman sekarang ya Pak.”

“Iya, kalau mau seperti Bapak dulu ya tidak perlu berpacaran. Yang paling penting itu, temui baik – baik anaknya, sekalian orang tuanya juga tidak apa – apa. Kalau memang kamu mau memperjuangkan anak itu, iya harus dengan cara istimewa dan terhormat. Belajarlah untuk memperlakukan cinta dengan bijaksana. Mereka pasti senang dengan laki – laki yang memperlakukan putrinya dengan cara yang santun. Percaya deh sama Bapak.”

Tiba – tiba Bapak justru balik bertanya denganku,

“Apa sudah ada seorang perempuan yang membuatmu jatuh cinta, Nak?”

“Hmmm…ada sih Pak. Gadis berjilbab biru yang pernah aku ceritakan ke Bapak. Tapi, aku belum cukup berani kalau seperti Bapak dulu.”

“Nak, sesuatu yang sering dilupakan oleh banyak manusia itu tidak gegabah dan terburu – buru. Kalau memang belum yakin tidak perlu menampilkan isi hati. Cintailah dalam diam. Berharaplah melalui doa – doamu. Berhati – hati dalam berucap apalagi urusan dengan perempuan. Cinta akan menjadi sebuah keindahan bila diikuti dengan tingkah laku yang santun dan memperlakukan perempuan dengan cara yang istimewa.”

Keesokan harinya setelah hari itu, aku pamit ke Bapak dengan sedikit terburu – buru.

“Mau kemana, Nak?”

“Aku ingin memperjuangkan seseorang dengan cara yang istimewa dan terhormat, Pak.”

“Siapa?”

“Dia, Pak. Gadis berjilbab biru.”

“Hmmm… Dasar Anakku. Mirip sama Bapaknya.“

“Selamat berjuang, Nak. Jadi anak laki – laki Bapak yang baik.”

@Prambanan, 25 November 2016

 

Bahagia itu Sederhana ?

Kata Bapak “Bahagia itu sederhana… sesederhana bisa berkumpul dengan anak – anaknya.”  Tapi toh kenyataaannya tidak sesederhana itu. Sudah lama bapak tidak berkumpul dengan anak – anaknya. Ketika anak – anaknya sudah berkeluarga, bapak rindu sekali berkumpul lagi dengan mereka. Tapi sayang… banyak anak yang enggan berkumpul lagi.

Kata Ibu “Bahagia itu juga sederhana… sesederhana bisa melihat anak – anaknya jadi orang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang lain.” Lagi – lagi tak sesederhana itu. Buat jadi orang yang sukses butuh kerja keras. Buat jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, setidaknya juga harus selesai dengan urusan pribadi. Tapi sayang… banyak anak yang enggan kerja keras, alhasil lebih mengandalkan kepunyaan orang tua mereka.

Kata seorang suami “Bahagia itu juga sederhana… bisa setiap hari berkumpul dengan istri dan anak – anaknya.” Kenyataannya juga tak sesederhana itu. Banyak suami yang harus LDR dengan istri dan anak – anaknya karena urusan pekerjaan. Seorang suami yang bekerja di perkapalan atau pertambangan, tentu tidak bisa setiap saat bertemu dengan mereka. Tapi sayang… banyak suami yang setiap hari bisa berkumpul dengan istri dan anak – anaknya, tetap saja tidak merasa kebahagiaan karena alasan yang bermacam – macam.

Bagiku… bahagia itu (tak lagi) sederhana. Kebahagiaan itu butuh diikhtiarkan, tidak serta merta datang begitu saja. Justru yang paling penting adalah bersyukur sebanyak – banyaknya. Karena kebahagiaan dan kesedihan di dunia hanya sementara, cukup dimaknai dengan sewajarnya saja. Jadilah hamba – hamba yang bersyukur… begitu pesan Tuhan buat kita. Biar makin berkah dan ditambah nikmatNya pula, begitu janjiNya. Dan sebaliknya kalau justru kita makin sombong, jangan harap ditambah nikmatNya, bisa saja Tuhan akan datangkan azab buat kita. Lagi – lagi itu janjiNya, di dalam firmanNya.

@Prambanan, 24 November 2016

Suatu Hari Nanti

Dua-cinta-400x198

Suatu hari nanti, aku akan kembali. Bukan untuk mengenang masa lalu kita. Bukan pula membicarakan kenangan cerita lalu, yang mungkin akan aus tergilas oleh waktu. Bukan pula menagih janji – janji, yang pernah kamu sampaikan tempo dulu. Karena aku sadar, itu semua bisa saja terlupa di pikiranmu. Aku tidak mau mengungkitnya kembali.

Suatu hari nanti, aku akan kembali. Sama seperti pertama kali aku bertemu dengan keluargamu. Tentu tidak sama persis seperti tempo dulu. Aku bukan lagi seorang diri bertamu ke rumahmu. Bukan karena aku menjadi semakin penakut. Aku memang membutuhkan mereka untuk bertamu kembali ke rumahmu. Kamu tahu kan yang aku maksud ? Hmm… aku membawa kedua orang tuaku, sebagaimana yang kamu mau.

Mereka…datang untuk melamarmu untuk putranya –Aku.

Suatu hari nanti, aku akan kembali untuk menawarkan masa depan buatmu. Berusaha memberikan kebahagiaan buatmu, meski aku mengerti bahwa kebahagiaan tidak diberikan, tapi bisa kita ciptakan bersama – sama dengan saling percaya. Berusaha menjadi imam sebaik – baiknya buat kamu dan malaikat kecil kita nanti. Hmm… malaikat kecil ? Ah, masih terlalu dini untuk membicarakannya.

Suatu hari nanti, yang tentu tak pasti. Meski dalam hati dan diri ingin selalu memastikannya. Tapi, siapalah diri kita ? Aku dan kamu ? Hanya manusia yang punya kehendak terbatas. Allah adalah maha berkehendak yang tanpa batas. Biarlah ikhtiar dan doa menjadi bagian dalam proses kisah perjalanan kita menuju suatu hari nanti. Bukan untuk saling menunggu ataupun ditunggu. Tapi, untuk saling mengikhtiarkan dan mendoakan yang terbaik.

Suatu hari nanti, adalah jawaban dari Allah atas ikhtiar dan doa kita selama perjalanan ini. Semoga kita bisa ikhlas untuk menerima setiap takdir Allah suatu hari nanti.
Suatu hari nanti…keikhlasan adalah yang paling utama.

Biar Foto Bicara

Beberapa hari yang lalu, salah satu fotografer Hidayatullah mengambil foto salah seorang murid madrasah di Balikpapan menikmati sebotol air minum ketika dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki dari sekolahnya.

Bagi saya, foto semacam ini bisa menjadi pelajaran yang sederhana tapi sungguh sangat berharga, dan sarat akan makna. Menjadi pelajaran bagi kita yang sudah tak lagi belia, dari mereka yang jauh lebih belia dari kita.

Ya, ini semacam…Tamparan keras! Telak mendarat di pipa kita. Menjadikan pipi kita merah padam. Marah? Ya, kita memang harus marah pada diri kita. Agar kita sadar dan semakin sadar bahwa kita memang harus lebih banyak belajar dari mereka yang sebenarnya jauh lebih belia dari kita. Alih-alih, yang seharusnya kita memberikan teladan dan adab bagi mereka yang belia, tapi ternyata realita berkata sebaliknya. Kita memang harus belajar dari mereka, guru-guru kecil kita.

“Jangankan duduk, kadang kita makan dan minum saja menggunakan tangan kiri, berdiri dan lupa baca doa atau minimal membaca basmallah. Justru yang seperti ini menjadi budaya, padahal rasul Muhammad mengajarkan kita bagaimana adab makan dan minum yang baik” Astaghfirullah…

Baca lebih lanjut

Versi Baik Ayah

Aku sadar. Kamu pun harusnya lebih sadar. Sekarang kamu itu bukan lagi anak remaja atau ABG. Kamu sudah semakin dewasa saja. Umurmu juga sudah berkepala dua. Bagi seorang ayah tentu ingin melihat anaknya bahagia. Dan kali ini tentang kebahagiaan kamu, anak perempuan pertamanya. Emm…apalagi kalau bukan urusan pasangan hidup untuk anaknya. Setiap ayah akan menyadari bahwa akan tiba waktunya untuk melepaskan anak perempuannya. Ketika ada laki-laki yang berani mengetuk pintu rumahnya, dan minta ijin kepada ayah untuk melepaskan putrinya… katanya laki-laki itu, ingin mengambil alih tanggung jawab menjaga atas putrinya. Lantas, apakah dengan mudah ayah akan menerima? Tentu tidak kan…seorang ayah tentu hanya akan melepaskan putrinya untuk lelaki yang baik saja.

Ah…Apakah seperti aku misalnya? Entahlah…

Di era seperti saat ini, laki-laki baik memang langka ketersediaannya. Persentasenya mungkin lebih sedikit dari laki-laki yang kurang baik. Ayah akan merasa was-was kalau salah menerima laki-laki yang pantas untuk putrinya. Karena menikah bukan tentang urusan kebahagiaan sesaat saja di dunia, tetapi juga tentang urusan akhirat bagi putrinya dan cucu-cucunya. Seorang laki-laki adalah imam bagi keluarga. Seorang imam harus menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Tak mungkin, ayah menerima laki-laki yang tak bisa jadi imam yang baik buat putrinya. Ayah juga tak mungkin rela, sekalipun putrinya sangat menyukai laki-laki itu. Setidaknya aku sangat mengerti bahwa lagi-lagi ayah hanya akan menerima lamaran bagi laki-laki baik saja.

Ah…Apakah seperti aku misalnya? Emm…Mungkin saja. Entahlah…aku pun akhirnya memberanikan bertanya.

“Kata ayah, laki-laki yang baik buat menjaga kamu itu, laki-laki yang seiman, bertanggung jawab, memberikan bukti bukan janji, mau menerima apa adanya putrinya, sayang terhadap keluarga, dan siap untuk susah senang bersama.”

Emm…mungkin aku bisa mengusahakan jadi laki-laki yang baik kalau kata ayah seperti itu. Mataku bercahaya, setidaknya ada semangat untuk membuktikan pada ayah, kalau aku bisa dapat label laki-laki yang baik dan pantas untuk menggantikannya dalam menjaga putrinya. Iya… kamu maksudnya, putri kesayangan ayah. Aku ingin menggantikan ayah untuk menjagamu, melindungimu, dan memimpinmu, entah itu dalam urusan duniawi maupun akhirat Tapi…apakah ayah dan kamu akan mau?

Entahlah…aku sudah siap dengan segala keputusan ayah dan juga kamu. Aku tak berhak berharap lebih atau bahkan memaksakan kamu akan menerimaku. Ah, bukan! Meski aku tak bisa membohongi perasaanku, kalau aku memang sedikit berharap kamu menerimaku. Itu saja. Menurutku itu wajar, bukankah kalau cinta harus diperjuangkan? Karena menurutku ‘jatuh cinta’ saja tidak cukup. Modal hanya cinta juga tidak baik. Aku ingin memperjuangkan cintaku dengan cara yang baik. Datang ke rumahmu, lalu ketuk pintu rumahmu dan juga pintu hatimu, dan meminta ijin ayah dan ibumu untuk melamarmu? Bukankah itu yang diajarkan oleh kisah para pendahulu? Karena jodoh itu bukan hanya bertemu, tapi juga bertamu di rumahmu dan meminta ijin ke orang tuamu. Bukan hanya sekedar bilang, “Maukah kamu jadi pacarku?” Bukankah akan lebih elegan, kalau aku bilang, “Maukah kamu jadi pasangan halalku?”

Terserah kamu. Aku hanya bisa berusaha jujur tentang perasaanku….

Terinspirasi dari tulisan mas gun disini http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/121853204077/cerpen-versi-baik-ayah

Memutuskan

Bismillahirrahmanirrahim…

Kata-Kata-Romantis

Akhirnya, akupun mengambil salah satu keputusan terbesar atau mungkin terberat dalam hidupku. Tentang cinta! Ah, sudahlah… entah benar atau salah keputusanku..toh, aku sendiri yang mengalaminya. Dan aku ingin berikhtiar sampai di ujung batas kemampuanku. Dan setelah itu, biarlah Tuhanku yang memberikan skenario hidup terbaik untukku. Dan begitu juga untukmu, orang yang telah kupilih. Aku pasrah!

Kata orang alim, “Tuhan itu pemberi skenario terbaik buat hamba-hambanya.”

Tapi…aku kadang belum yakin saja, “Apa aku sudah pantas mendapatkan skenario terbaik ? Tahu saja sendiri, kalau aku belum memberikan hidupku yang terbaik untuk Tuhanku.”

Ah…entahlah. Terimakasih Tuhan.

Aku…Ah, aku memang merasa bukan lelaki yang tak pandai bermain cinta. Apalagi sampai mempermainkan cinta. Memang cinta itu mainan, bisa dimainkan begitu saja. Tidak, kan? Aku memang payah. Tetapi aku sadar bahwa setiap orang bisa jatuh cinta pada siapa saja, termasuk aku. Bukankah Rasul pernah bersabda bahwa tidak sempurna iman seseorang tanpa saling mencintai dengan sesamanya. Namun toh kita berhak memutuskan untuk mencintai seseorang. Ya…memutuskan! Bukankah hidup ini tak sepenuhnya urusan takdir Tuhan, yang sepenuhnya dari kehendakNya. Manusia juga diberikan anugerah untuk memilih dari berbagai pilihan, mau baik atau buruk? Kita juga yang memutuskan. Ah, soal keputusan. Sudahlah…aku sudah memutuskan untuk mencintai kamu. Berharap kamu menerima keputusanku untuk mencintaimu. Memangnya aku siapa? Aku memang tak siapa-siapa. Hanya seorang laki-laki yang dengan kepercayaan dirinya, berani untuk mengambil keputusan seperti ini. Aku juga tak berhak mempengaruhi keputusanmu. Aku sudah siap menerima keputusanmu, apapun itu hasilnya dengan ikhlas.

Baca lebih lanjut

Prolog

Bismillahirrahmanirrahim,

10785054-heartshadow-with-rings-on-a-book-middle-i-love-you-will-you-marry-me-card-Stock-Photo

Inilah kumpulan cerita yang kujanjikan tempo hari. Meski hanya sebuah cerita, tetapi bagiku cerita ini begitu istimewa. Bukan hanya sekedar cerita biasa. Karena aku menyisipkan segenap asa dan harapan tentang masa depan. Ya, tentang masa depan kita.

Meski kita tahu bahwa masa depan adalah hal yang selalu misterius. Kadang sesuai dengan kehendak kita. Terkadang juga jauh dari harapan kita.

Ah, masa depan memang selalu begitu. Tetapi kita percaya, meskipun masa depan diciptakan misterius, namun bukan tanpa alasan. Semua itu agar kita—manusia—selalu mau berusaha dan berdo’a.

Hidup memang selalu penuh warna. Di satu sisi Tuhan punya kehendakNya dan manusia harus tunduk tak bisa berbuat apa-apa. Di sisi lain, manusia juga diberikan kebebasan dengan kehendaknya untuk memilih. Ya, hidup itu serba pilihan. Mau memilih yang baik atau buruk?

Begitu juga dalam memilih pasangan hidup. Bukankah hal ini sangat mempengaruhi masa depan kita bahkan agama kita? Ah, sudahlah! Aku sudah memutuskan untuk “memilihmu” sebagai pelengkap setengah agamaku, sekarang tinggal bagaimana dengan kamu?

Would you marry with me…?

Yes or No?

Berbeda

rain_of_paradox_by_pyr0sky-d6hbyer

Aku. Kamu. Atau lebih tepatnya kita sebagai insan manusia yang ber-agama dan berbudi luhur terhadap sesama. Setiap insan manusia diciptakan tak sama. Berbeda. Sekalipun kembar identik, tetap saja pasti ada yang membedakannya. Setiap dari kita tak bisa disamakan. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Punya potensi yang berbeda. Mimpi yang berbeda pula. Mengapa harus disamakan?

Sebenarnya hal yang sewajarnya berbeda tak perlu disamakan. Biarkan kita memilih apa yang menjadi mimpi kita. Meskipun sebenarnya bukan sekedar memilih, tapi lebih tepat dipilihkan oleh Tuhan. Tapi apa salahnya berusaha terhadap pilihan kita? Bukankan Tuhan mengharuskan kita untuk ikhtiar dan doa terhadap rencana kita? Meskipun nantinya kita harus menerima skenario hidup yang dipilihkan Tuhan untuk kita. Tentang karir, jodoh, rejeki, atau tentang apapun itu.

Sekalipun tak perlu disamakan, tapi tetap kita harus memiliki niat atau visi yang sama, yaitu: mengharapkan ridho Tuhan semesta alam. Ujung-ujungnya adalah Tuhan. Karena kita hidup semata-mata karena Tuhan. Karena kita meyakini ada kekuatan yang mengatur hidup kita. Iya, Tuhan kita yang telah membuat skenario terbaik setiap insan manusia.

Berbeda. Bukan berarti membuat kita saling menjauh. Tak ingin bersatu untuk saling menguatkan. Berbeda adalah rahmat. Bersatu adalah proses untuk menguatkan berbagai perbedaan. Berbeda adalah keniscayaan. Namun tetap kita memiliki satu tujuan, ridho Tuhan. Tanpa itu, hanya akan membuat kita menyesal. Bukan hanya di dunia tapi akhirat kelak. Selamat berjuang mewarnai dunia dengan berbagai perbedaan, bukan untuk saling menonjolkan diri. Merasa yang terbaik, tetapi untuk saling menguatkan bahwa kita bisa hidup damai dengan perbedaan.

Klaten, 10-08-2015 I @cak_puji I Gambar diambil dari deviantart.com

Melepaskan

you_fly_leaves___you_fly____by_mechtaniya

Barangkali melepaskanmu adalah bagian caraku untuk mencintaimu. Kita—aku dan kamu memang butuh jarak yang entah seberapa jauhnya, terpisah untuk seberapa lamanya, bertahan dengan dirinya sendiri entah sampai kapan. Tapi ada satu hal yang harus kita yakini, bahwa jodoh tak akan lari kemana-mana. Sekalipun aku di sini dan kamu di sana, terpisah oleh sekat dimensi ruang dan waktu yang fana, tapi kita percaya ada masa dimana kita bisa berjumpa dalam ketaatan. Aku sudah siap dan kamu juga. Kita sama siap-siap hidup bersama mengarungi sisa hidup kita di samudera dunia dalam bahtera bernama rumah tangga.

Aku telah bersiap menahan setiap kerinduan yang muncul tentang kamu. Aku telah bersiap meminum pil pahit ketika dalam perjalananmu, kamu memilih hidup bersama orang lain dan bukan denganmu. Begitu juga denganku, barangkali dalam perjalananku, aku akhirnya memilih hidup bersama orang lain. Meskipun sebenarnya aku tak mampu melakukan itu. Aku tak ingin memulai terlebih dahulu untuk hidup bersama orang lain. Aku akan menjaga perasaanku dalam diam, sambil bersiap tentang segala hal yang hingga saat ini masih membuatku mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku, kepadamu dengan cara yang terbaik, yaitu: mendatangi rumahmu dan meminta ijin orang tuamu untuk menghalalkanmu.

Bukankah itu yang kita mau? Kita menikah dan membangun bahtera rumah tangga bersama.

Klaten, 09-08-2015 I @cak_puji I Gambar diambil dari deviantart.com

Buah Hati

naruto_and_hinata_by_henriqueheaven-d4qr8wx

Keangkuhan seorang laki-laki—sepertiku, seolah runtuh seketika melihatmu terbaring lemas seperti itu. Kamu yang selalu saja bilang “oppa, aku nggak apa-apa” setiap kali aku tanya “dek, gimana masih kuat?”. Kamu sudah bertarung nyawa malam ini, melahirkan anakmu—anak kita. Anak kebanggaan kita kelak. Malaikat kecil kita, Dek.

Hari ini, putra kami terlahir ke dunia. Menyapa pertama kali dengan senyuman terbaiknya ke arah ayah dan bundanya—kita berdua. Meski lebih banyak tangisan yang dia lakukan. Kita bisa lihat ada cahaya di bola matanya. Cahaya ketenangan yang meneduhkan hati kami berdua. Tak kuasa kami menahan air mata sambil mencium dahi putra kami tercinta. Tak sadar air mata kami menetes di pipinya. Kata orang, itu air mata cinta sebagai buah ketulusan cinta kita berdua, saling menerima dan menguatkan satu sama lain. Cinta yang sebenarnya sederhana saja, yaitu: saling percaya dan menghargai satu sama lain bahwa kita bertemu dan berpisah karena Allah dan kita siap mengarungi bahtera rumah tangga dengan belajar bersama ilmu agama, agar kelak rumah kita tercipta peradaban yang penuh keberkahan dari Sang Maha Cinta.

Kebahagiaan sekaligus rasa terharu menjadi satu, setelah kecemasan menyelimuti hatiku, dan juga kedua orang tua kami. Laki-laki mana yang tidak cemas ketika istri tercintanya berjuang bertaruh nyawa? Kemarin siang, tiba-tiba Ibumu menelponku yang saat itu aku masih bekerja di kampus. Ibumu bilang, kalau kamu sudah waktunya melahirkan. Bahkan sudah mulai ada pendarahan dan segera di bawah ke rumah sakit untuk persalinan. Aku yang saat itu dalam posisi masih mengajar mahasiswa, secara mengejutkan langsung aku hentikan. Mahasiswa secara mendadak aku pulangkan sebelum waktunya berakhir. Dengan segala kecemasan dan air mata yang tak kuasa di tahan, aku lari keluar kelas dan segera pulang ke rumah.

Apa yang terjadi dengan kamu, Dek? Kamu tiba-tiba mengalami banyak pendarahan. Ibumu dan Oppa makin cemas. Entah berapa banyak air mata yang kami keluarkan. Kami segera mencari rumah sakit persalinan terdekat dengan rumah, tempat kami biasa kontrol kandungan. Kebetulan dokternya sudah mengenal baik kami. Hati kami kalutnya minta ampun. Kamu masuk ruang persalinan. Kami tak diijinkan masuk. Kami menunggu di luar ruangan. Berusaha menahan kecemasan.

Hampir satu jam, dua jam, hingga 3 jam belum ada kabar. Kami makin cemas terhadap kondisimu. Tiba-tiba, terdengar kamu memanggilku, “Oppa…oppa…oppa…oppa mana dok?” Aku makin menangis, takut terjadi apa-apa denganmu. Apa yang terjadi denganmu? Apa kamu sudah tidak kuat? Dengan berbagai pertimbangan, dokter akhirnya mengijinkanku untuk masuk ruang persalinan. Menunggu di sampingmu. Kamu tersenyum di dekatku. Aku dekap erat tangan kananmu. Setiap aku tanya, “dek, gimana masih kuat?”, kamu selalu jawab “Oppa, nggak apa-apa, adek masih kuat, bental lagi ya oppa.”. Tapi, aku yakin kamu berusaha bohong, berusaha menutupi betapa sakitnya perjuangan melahirkan.

“Bu…ayo ambil nafas panjang… hembuskan,” berkali-kali dokter memandumu untuk mengeluarkan bayi di kandunganmu.

Satu jam berlalu. Sejak aku menunggu di sampingmu. Menemani perjuanganmu bertaruh nyawa. Menemani setiap detik hembusan nafasmu. Mendekap tanganmu makin erat. Memberimu semangat kalau adek pasti kuat. Entah berapa banyak keringat yang bercucuran di wajah cantikmu. Aku tidak tega melihatmu dek. Sungguh aku tak kuat harus melihatmu berjuang keras seperti itu. Aku harus menahan tangis. Menahan kesedihan. Berusaha tersenyum di depanmu. Berusaha menguatkanmu karena aku yakin kamu akan jauh lebih kuat.

Baca lebih lanjut

Ijinkan Aku

blue_roses_by_harrykrizz-d397ouu

Barangkali kita perlu belajar dari seorang penjaga taman kota, yang penuh dengan kesabarannya menjaga—bahkan sebaik-baik menjaga—bunga-bunga di taman. Entah apa alasan utamanya? Apakah hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban atas pekerjaannya, sekaligus mencari nafkah untuk memenuhi dapur rumahnya, biaya anak sekolahnya, atau keperluan lain. Mungkin iya juga seperti itu. Tapi tak semua. Menurutku, mereka juga punya ketulusan hati merawat bunga-bunga di taman, sebagai bukti kecintaannya terhadap makhluk Tuhan. Siapa yang tak sedih ketika melihat bunga-bunga di taman tampak layu? Akhirnya mati tak kuat melewati seleksi alam. Sang penjaga taman mungkin orang pertama yang sedih—bahkan sangat sedih. Kenapa? Karena dia orang yang mendapat amanah menjaga bunga-bunga di taman—sama halnya amanah untuk menjaga istri dan keluarganya.

Tentang menjaga. Aku juga akan merasakan hal yang sama—sedih dan merasa kesal, ketika tak mampu menjaga sebaik-baiknya. Apalagi menjaga orang yang sangat kita cintai. Mungkin bisa orang tua, sahabat, saudara, atau istri dan keluarga kita. Mereka semua adalah kekayaan yang tak terharga. Bisa menjaga mereka dengan baik dan membuat mereka bahagia—barangkali membuat kita bahagianya luar biasa, sekalipun hanya hal-hal sederhana.

Tentang menjaga. Aku mengerti bukanlah perkara yang mudah. Butuh pengorbanan—waktu, tenaga, dan juga pikiran, dan juga niat yang tulus mengharap keberkahan Tuhan. Meski aku tak sempurna menjaga, tapi paling tidak sudah berusaha. Memang tak mudah menjaga tapi tak sulit juga, karena niat yang tulus akan mengalahkannya.

Tentang menjaga. Tentang aku dan kamu yang saling menjaga. Aku berusaha menjagamu dan kamu juga menjagaku. Bukankah begitu? Karena bagiku—kamu ibarat bunga mawar biru di taman kota itu dan aku adalah sang penjaga di taman itu. Aku hanya akan bisa menjagamu meski tanpa memilikimu, karena aku tahu—aku tak punya hak untuk memilikimu. Aku dan kamu milik Tuhan, hidup untuk Tuhan, dan akan kembali juga kepada Tuhan.

Tentang menjaga. Aku ingin menjagamu lebih lama. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai sahabat. Kamu mengerti maksudku? Sekarang aku ingin mengambil tanggung jawab ayahmu untuk menjagamu dengan cara yang baik—yaitu: menghalalkanmu untukku. Kamu mau aku menjagamu? Iya, Ijinkan aku menjagamu sebagai pasangan halalku.

“Hmmm…aku mau jadi pasangan halalmu.” Kata kamu seperti itu.

“Beneran, kamu mau?” Jawabku tak percaya.

Kamu terdiam sejenak. Lalu tersenyum simpul ke arahku dan kedua orang tuamu, sambil menganggukan kepalamu. Tanda mau tapi malu.

Klaten, 09-08-2015 I @penabirru I Gambar diambil dari resplashed.com

Tentang Hidup

bianglala_by_byebyebeautifool

Tentang Hidup. Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Tenteram. Damai. Tanpa kesusahan. Tanpa cacat. Tapi kenyataannya tak semua orang punya kesempatan itu. Hidup diciptakan berpasangan satu sama lain. Jika ada yang sedang bahagia, pasti di luar sana ada yang terlunta-lunta hidupnya. Jika ada yang sedang sehat, pasti ada juga yang sedang terbaring sakit. Mungkin juga ada yang hatinya berbunga-bunga, tapi pasti ada yang hatinya terpuruk merana. Itulah hidup. Tuhan memberikan nikmat-Nya, tetapi juga memberikan cobaan-Nya. Satu paket yang tak terpisahkan.

Tentang hidup. Tak semua orang akan merasa bahagia dalam perjalanan hidupnya. Kadang bahagia tetapi juga kadang dirundung kesedihan. Dalam siklus hidup seseorang, kita akan mengalami fase dimana kita berada di atas. Hidup kita serba kecukupan dengan kebahagiaan. Tapi kita juga harus siap mengalami fase dimana kita berada di bawah. Hidup kita serba kekurangan dengan berbagai permasalahan keduniawian. Itulah roda kehidupan. Terus berputar dan dipergulirkan sesuai waktunya masing-masing, seseorang hidup di dunia ini.

Kadang kita merasa protes terhadap Tuhan tentang hidup kita yang tak sesuai dengan keinginan—bahagia dan tanpa kekurangan. Justru hidup kita ditakdirkan sengsara dengan penuh cercaan. Untuk apa Tuhan mengharuskan kita untuk ikhtiar dan berdoa? Kalau akhirnya Tuhan sudah menggariskan manusia sesuai takdirNya. Bukankah itu kebohongan. Begitu sia-sia kita untuk melakukannya.

Ikhtiar dan berdoa bukanlah perkara sia-sia. Takdir diciptakan dan kita mempercayai itu karena itu bentuk keimanan kita umat Muhammad. Hidup adalah rentetan takdir yang diciptakan misterius. Tak perlu risau ataupun galau hanya karena takdir tak sesuai harapan. Sungguh hidup dan mati kita diciptakan untuk menguji kualitas amal kita sebagai umat Muhammad. Memperjuangkan hidup untuk bahagia dengan ikhtiar dan do’a adalah bentuk keimanan yang nyata, tetapi menerima takdir Tuhan yang tak sesuai harapan kita juga bentuk keimanan yang nyata. Setiap keimanan yang nyata berbuah pahala tak hanya di dunia, bukankah kelak kita masih punya kehidupan di akhirat sana? Lalu mengapa kita harus kecewa terhadap dunia?—Ketika bersyukur dan bersabar adalah harga mati yang harus kita jalankan selama perjalanan hidup di dunia.

Semoga kelak kita mendapatkan rahmat Tuhan—surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, bidadari yang cantik jelita, dan yang paling utama dapat berjumpa dengan Sang Pencipta di surga.

Klaten, 07-08-2015 I @penabirru I Gambar diambil dari deviantart.com

Bertemu Kembali

maudy-ayunda-tahu-diri-ost-perahu-kertas

Masih tentang mereka. Cipa dan Tom. Dua anak manusia. Perempuan pemalu dan lelaki yang tak peka rasa. Bertemu kembali secara tak sengaja di usia muda. Tom mengenali Cipa sudah lama meski dia tak pernah secara langsung memperkenalkan dirinya. Sementara Cipa tak pernah mengenal Tom dalam kehidupannya.

Tom pulang ke kampung halaman. Setelah sekian lama merantau ke kota untuk mengejar mimpinya kuliah. Dia sudah lulus dengan gelar sarjana, satu-satunya di dalam keluarganya. Dia rindu dengan kampungnya. Rindu rumah. Rindu orang tua dan sanak-saudara. Setiap sudut yang ada di kampung halaman, tersimpan kerinduan dalam dadanya, termasuk kerinduan akan masa lalunya bersama teman masa kecilnya.

Cipa juga hampir sama. Pulang kampung. Berbeda dengan Tom, Cipa hampir setiap bulan bisa pulang ke kampung halaman. Kampusnya tak terlalu jauh dari kampung, paling tidak hanya sekitar 2 – 3 jam saja perjalanan. Cipa masih kuliah semester 6. Masih 1 tahun lagi untuk bisa dapat gelar sarjana.

Mereka bertemu kembali. Tom takluk pada detik pertama melihat Cipa. Begitu lama Tom memandang Cipa, hingga akhirnya Cipa menundukkan pandangan, mungkin dia tampak malu dilihatin Tom seperti itu. Tom memastikan kalau itu benar-benar Cipa. Gadis kecil masa kecilnya.

“Hallo, gadis kecil?” tanya Tom.

Cipa bingung. Memastikan kalau dia yang diajak bicara oleh Tom. Dia tidak mengenal Tom.

“Maaf, Anda siapa?” tanya Cipa.

“Kenapa kamu sebut aku dengan gadis kecil?” tanya Cipa lagi.

“Kamu benar Cipa bukan? Cipa Kirana Mukti?” tanya Tom.

“Iya, kamu benar. Ini Cipa. Anda siapa?” Jawab Cipa.

“Aku Tom, Tomi Al-Firdaus kakak kelasmu dulu waktu masih SD.” Jawab Tom.

“Kamu pasti tak mengenalku. Tapi aku mengenalmu sejak dulu. Aku mengagumimu gadis kecilku.” Jawab Tom dalam hatinya.

Tiba-tiba, Cipa meninggalkan Tom. Cipa seperti dulu tak lama-lama kalau bertemu cowok. Selalu pemalu.

“Maaf, aku lagi ada urusan. Salam kenal, Tom.” Cipa berlari meninggalkan Tom sambil melambaikan tangan kanannya.

Tom masih terpaku pada pandangan pertama. Apalagi kesan pertama bertemu, sungguh mengesankan. Mereka bertemu selepas sholat di masjid. Mereka secara tak sengaja juga memakai baju batik dengan warna yang sama, biru muda. Tom mungkin jatuh hati. Tapi apa Cipa juga merasakan yang sama? Kemungkinan tidak! Tom tak menyerah.

Hallo, Cipa dan Tom. Selamat bertemu lagi. Selamat berjuang meninggalkan jejak-jejak perjalanan kebaikan, untuk kalian berdua dan juga masyarakat sekitar kalian. Tom, jangan menyerah, kamu tak salah karena jatuh hati pada Cipa. Bukan Cipa yang membuat kamu jatuh cinta, tapi cintalah yang harusnya membuat kamu memutuskan memilih Cipa. Selamat berjuang, Tom!

Klaten, 07-08-2015 I @penabirru I Gambar diambil dari deviantart.com

Gadis Kecil

you_can__t_by_burdge_bug-d3jn2sl

Cipa dan Tom. Dua sejoli yang dipertemukan kembali setelah lama terpisah oleh jarak dan waktu. Cipa yang telah berubah. Tom yang tak pernah berubah. Cipa yang pemalu. Tom yang tak peka oleh perasaan. Mereka bertemu kembali. Anugerah atau musibah?

Cipa, gadis pemalu yang telah berubah. Dia semakin tumbuh dewasa, bersama mimpinya menjadi perancang busana terkenal di dunia. Sementara Tom, perjaka yang tak peka rasa. Tak pernah memutuskan untuk jatuh cinta kepada wanita lain kecuali ibunya. Tom, perjaka sederhana yang memutuskan mandiri dan jauh dari orang tua. Merantau di jantung kota. Memperjuangkan impiannya menjadi seorang peneliti di tanah air tercinta. Tapi apakah Tom masih akan tetap bersikukuh menahan perasaannya, apalagi dengan Cipa? Gadis kecil yang menjadi impian di masa lalunya.

Tom mengerti umurnya tak lagi disebut dengan remaja. Sudah sewajarnya saja, kalau Tom memikirkan masa depan perasaannya. Tak perlu lagi takut untuk mengungkapkan perasaannya. Cukup dengan keberanian yang nyata.

Kata Bapak, “Kalau memang jatuh hati bukan jatuh cinta, memang harus diperjuangkan sampai Tuhan menunjukkan takdirNya.”

Bapak juga dengan panjang lebar menambahkan, “Jatuh hati lebih dekat dengan kebaikan karena seseorang akan memikirkan bagaimana cara yang baik atau bahkan terbaik untuk mengungkapkan perasaannya. Jatuh cinta kadang hanya ilusi nafsu belaka. Yang jelas, cara yang baik untuk mengungkapkan perasaan, yaitu dengan berani mendatangi rumahnya, meminta ijin bapak ibunya untuk menikahi putrinya, Tom.”

Lantas kesimpulannya, “Kamu sudah benar-benar siap nggak Tom?” tanya Bapak.

Tom terdiam. Mencoba tersenyum simpul di depan bapaknya. Barangkali Tom semakin bulat tekadnya untuk mengungkapkan perasaan.

“Emm… apakah kepada Cipa?” tanya hatinya.

“Emm… iya sepertinya!” jawab hatinya pula.

Klaten, 06-08-2015 I @penabirru I Gambar diambil dari deviantart.com

Kembali

penulis_petebritney_deviantart

Aku memutuskan untuk kembali menulis. Memulainya kembali dengan optimisme semangat pagi. Semangat yang tulus untuk berbagi kenangan tentang semua hal yang baik. Tentang hidup yang serba misterius, hingga membuat manusia selalu dihantui rasa ketakutan tingkat akut. Bukan karena takut tak mendapat kenikmatan dunia dengan segala fatamorgananya. Hingga membuat kita menangis meratap nasib tragis. Merengek-rengek meminta belas kasihan Tuhan. Tetapi aku lebih takut kesempatan hidupku tanpa makna. Tanpa manfaat untuk umat manusia. Tanpa karya yang dikenang manusia. Sekalipun jasad kita tak berbekas di bumi, bukan berarti nama kita juga tak berbekas. Aku ingin hidup dalam keabadian melalui goresan tinta. Terkenang meski bukan dinobatkan sebagai seorang pahlawan. Cukup dikenal sebagai manusia biasa saja. Namun tetap abadi sepanjang zaman.

“Menulis adalah proses belajar untuk keabadian.”

Hari ini… aku akan memulai kembali dengan harapan-harapan besar. Sama seperti saat pertama kali aku memutuskan untuk belajar menulis, ketika masa putih abu-abu dulu. Sampai sekarangpun, aku tetap jadi seorang pembelajar. Yang tak kenal kata ‘berhenti’ untuk belajar sampai nyawa benar-benar lepas dari jasadnya. Saat itulah, aku resmi berhenti dari perjuangan. Tuhan dan para penduduk langit memanggilku untuk pulang. Tetapi semoga ada kenangan yang tertinggal.

Baca lebih lanjut

Haruskah Seperti Ini?

https://36.media.tumblr.com/9575fd789506201708fcfcc765f5ebc7/tumblr_ms4redknIy1scicqxo1_500.jpg

Wisma AOI, 2 Januari 2015

Haruskah semuanya berakhir sampai disini?

Ketika status dari kita—saya dan kamu, seperti jurang pemisah yang terlalu jauh saya tempuh dan terlalu sulit untuk saya lalui. Kamu bukan lagi seperti yang dulu. Statusmu kini telah berubah setelah cincin itu melingkar di jari manismu. Dan saya… masih sendiri, berusaha tegar atas pilihanmu—menikah dengan orang lain.

Haruskah semuanya berakhir seperti ini?

Ketika kamu minta pamit kepada saya untuk menuntut ilmu ke luar negeri dulu. Saya mengira kamu akan kembali ke rumah saya lagi untuk melamar saya setelah kamu meraih gelar mastermu di negeri sakura sana. Kenyataannya? Kamu tak pernah memberi kabar lagi. Saya berusaha menunggumu. Saya sering kali mengintip dari balik tirai jendela rumah setiap kali ada yang bertamu, berharap itu kamu yang datang hendak melamar saya. Tetapi hingga hampir 2 tahun ini, kamu belum juga datang ke rumah ini lagi?

Hingga suatu pagi… Ada orang yang bertamu ke rumah. Saya seperti biasa mengintip dari balik tirai jendela, berharap itu kamu.

“Ah, ternyata Pak Pos yang datang, bukan kamu.” Jawabku.

Beberapa kali, ia ketuk pintu. Ternyata belum juga ada yang membuka pintu. Sepertinya hanya ada saya. Mungkin ayah sedang pergi ke ladang. Dan seperti biasa dua adik laki-laki saya pergi ke sekolah. Ibu? Ah… manusia yang satu ini, sudah lama tak kutemui lagi di rumah ini. Beliau telah pergi meninggalkan ayah dan juga kami. Beliau menikah lagi dengan lelaki lain dan kami tak mau lagi bertemu dengan orang ini, sekalipun itu ibu kandung kami sendiri. Terpaksa saya yang membukakan pintu rumah. Terlihat Pak Pos yang berdiri di depan pintu sejak tadi, harap-harap cemas kalau tidak ada orang di rumah ini.

“Maaf, Pak! Menunggu lama, saya tadi baru di belakang.” Kataku sedikit berbohong karena sejak tadi sebenarnya saya ada di kamar di lantai dua rumah ini.

“Oh, ya mbak, tidak apa-apa. Ini ada surat undangan menikah buat mbak.” Jawabnya dengan begitu rumah.

“Terimakasih, Pak!” jawabku.

Saya menutup pintu rumah. Lalu saya lihat di bagian belakang surat undangan pernikahan itu, ada nama kamu—Toni. Saya tak percaya kalau itu kamu. Mungkin itu teman SMA-ku dulu yang namanya sama dengan kamu. Lalu saya segera membuka surat itu, memastikan siapa yang menikah?

Bismillah… ternyata itu beneran kamu, tertulis dengan jelas namamu—Muhammad Toni Al-Firdaus.

Saya jatuh… dan saya tak tahu lagi, apa yang terjadi dengan saya setelah itu.

Haruskah berakhir sampai disini dan seperti ini?

Memang semuanya harus sampai disini dan seperti ini. Kamu punya alur cerita cinta sendiri. Saya juga punya alur cerita sendiri. Dan alur cerita kita tak dipertemukan untuk bersama oleh sang sutradara—Tuhan. Karena Dia tentu tahu apa yang terbaik untuk para pemain teater di panggung dunia. Iya, seperti kita ini—saya dan kamu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Begitu juga dengan saya. Meski tak harus bersama, perasaan saya tetap masih sama—mencintaimu sampai kapanpun….

…Karena saya adalah gadis desa yang selalu menunggumu dari balik tirai jendela kamar, meski itu hanya khayalan semu. Tetapi saya ingin saja selalu menunggumu.

Puji Utomo

Twitter: @cak_puji

Facebook: Puji Utomo

Email: mr.pujiutomo@gmail.com

1 Januari

Wisma AOI, 1 Januari 2015

Hari ini, adalah awalan dari proses yang panjang—selama 365 hari ke depan. Itupun jika Sang pemilik kehidupan masih berkenan memberikan kesempatan hidup. Karena siapa yang tahu tentang kapan takdir kematian itu datang? Tak ada seorang pun tahu. Tapi kita yakin dengan hal itu akan datang sewaktu-waktu.

Sebagaimana biasanya pemulaan, tentu setiap orang ingin mengawalinya dengan yang baik, bahkan kalau bisa yang terbaik. Begitu juga denganku. Tanggal 1 ini, saya akan membuatnya sebagai awalan yang terbaik. Jauh lebih baik dari tahun lalu. Bagaimana dengan kamu?

“Hari ini harus lebih baik dari  hari  kemarin, jika  hari ini sama seperti  hari kemarin kita adalah golongan orang yang rugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin kita termasuk golongan yang celaka”

Begitulah pesan dari hadits untuk kita—umat Muhammad, bahkan umat lainnya. Bahwa kita harus melakukan pencapaian yang terbaik terhadap kesempatan hidup yang telah diberikan Tuhan, karena cara terbaik memperbaiki masa lalu adalah menjadikan hari ini dan masa depan lebih baik. Siapa yang mau disebut sebagai orang yang merugi? Tak ada, bukan? Maka, segeralah bergegas maju ke depan. Tinggalkan masa lalumu yang kelam. Dan hari ini, adalah penentu kesuksesan 1 tahun kedepan.

Bagi saya sendiri, tahun 2014 berasa… berasa apa ya? Ah, bingung. Semua rasa sepertinya ada. Dari yang menyenangkan hingga menyedihkan sepertinya ada, dan menghiasi perjalanan hidup saya setahun belakangan. Dari mulai cerita kesuksesan, seperti: juara di berbagai kompetisi nasional, menjadi mahasiswa berprestasi, nulis di media massa, masuk PIMNAS meskipun belum dapat medali, menjadi pembicara di berbagai acara, dan beberapa kesuksesan lainnya. Namun, juga banyak harapan yang tak kesampaian, seperti: target bisa ke luar negeri di tahun ini, target wisuda yang harus terpaksa mundur, tapi setidaknya masih diberikan kesempatan untuk bisa lulus ujian pendadaran—pertengahan bulan Desember kemarin. Dan satu lagi, harapan untuk mewujudkanmu #eaaaa juga harus kandas di tengah jalan karena berbagai pertimbangan. Tetapi ada juga berbagai hal yang tak terduga, seperti: akhirnya masuk TV juga, masuk koran lagi, dan tidak menyangka saja akan diberikan penghargaan PPSDMS Award kategori Peneliti Muda dan Pembaharu Teknologi. Padahal, saya ini siapa? Tak lebih dari anak ingusan yang tak sengaja dipungut oleh instansi PPSDMS. Saya seperti terjebak dalam lingkaran kebaikan—dikelilingi oleh orang-orang hebat, yang secara ‘tak langsung’ menjadikanku seperti sekarang—orang hebat juga? Ah, tidak! Itu sungguh terlalu berlebihan untuk orang sepertiku.

Baca lebih lanjut

Bumbu Cinta itu Patah Hati

Mungkin aku berpikir semuanya akan begitu mudah. Bahkan sangat mudah. Apalagi hanya sekedar minta ijin kepada orang tuaku. Selama ini mereka sangat ‘care’ dan tak terlalu protektif denganku, apalagi kalau itu untuk kebaikan anaknya. Mereka akan sangat mendukung dan manut-manut saja. Namun, sayangnya itu hanya ‘harapan’ kosong untuk urusan yang satu ini. Kalian pasti tahu sendiri. Memangnya urusan apa? Menikah kah? Ah… Iya, benar! Mereka terlalu protektif untuk urusan menikah. Ah… ada apa dengan menikah? Apa memang aku belum pantas untuk menikah? Sehingga orang tuaku belum kunjung juga mengijinkanku untuk menikah. Sebenarnya makna kata ‘siap’ itu seperti apa ya? Bukankah kita sendiri yang bisa mMaknainya. Bukan orang lain kan? Sekalipun itu orang tua kita…

Pernah suatu hari, aku mencoba berdialog pada Mak—sebutan bagi Ibu dalam keluargaku. Saat itu, seperti biasa kita sekeluarga menghabiskan waktu untuk menonton televisi selepas isya’ di ruang keluarga, karena memang hanya itu hiburan yang bisa kami nikmati di rumah. Itupun hanya sebentar saja. Ya, tidak lebih dari 2 jam-an. Biasanya pukul 9nan mereka sudah tidur, dan akan bangun lagi waktu tengah malam karena mereka harus pergi ke pasar. Beberapa tahun belakangan, mereka menjadi pedagang ikan lele di pasar. Berangkat tengah malam, dan pulang ketika menjelang waktu dzuha. Kami biasanya berbaring di ranjang tempat tidur yang sengaja ditaruh di ruang keluarga, biar orang tuaku mudah bangun kalau tengah malam. Aku pun memulai pembicaraan.

“Mak… aku pengen nikah mak, dibolehin nggak?” Tanyaku malam itu.

“Eh… emang sudah punya pacar ya? setahuku kamu nggak pernah cerita kalau sudah punya pacar.” Mak justru balik nanya kepadaku.

Emang kalau mau nikah harus punya pacar dulu ya mak?” Ujarku.

“Kalau seperti itu, ya belum punya mak.” Tambahku.

“Ya… kalau gitu kuliahnya diselesaikan dulu, kakakmu saja juga belum menikah, kamu mau melangkahi kakakmu?” Ujar bapakku yang aku kira sudah tidur sejak tadi.

“Eh… bapak bangun…” Ujarku sambil senyum-senyum menghadap bapak.

“Tuh, benar kata bapakmu. Kuliah selesaikan dulu. Kerja. Bantu orang tua. Baru nikah. Titik.” Mak mulai cerewet menasehatiku.

“Mak… tapi aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mak.” Kataku sambil mencari suatu barang di dalam tasku.

Tiba-tiba, aku mengeluarkan sebuah figura foto, dan menunjukkannya kepada Mak dan bapak. Foto itu sendiri berisi aku dan temen-temenku yang dulu pernah study tour di Pulau Dewata, Bali. Mungkin itu foto yang paling berkesan, dan berharga dalam hidupku. Selalu terkenang sampai sekarang, makanya aku sengaja belikan figura dan rencana akan kupasang di tembok ruang tamu rumahku.

Baca lebih lanjut

Pertemuan

https://penabirru.files.wordpress.com/2014/12/1589b-misteri-jodoh-benarkah-cari-jodoh-itu-susah.jpg?w=650&h=325

Kalau kita sadari bahwa hidup ini diwarnai oleh dua hal yang sengaja dipasangkan oleh Tuhan sewaktu menciptakan. Contoh mudah misalnya, ada baik ada buruk. Ada pagi ada sore. Begitu juga ada siang ada malam. Ada baik ada buruk. Ada laki-laki ada perempuan. Ah… dan semuanya diciptakan saling berpasangan. Mungkin juga ada ‘aku’ dan ada ‘kamu’? Ah… gombal! Tapi… itulah kenyataannya. Tuhan menciptakan Adam dan juga Hawa untuk berpasangan. Begitu selanjutnya, menurun pada anak cucunya hingga kiamat itu tiba.

Eh… kamu yakin dengan hal itu? Kalau aku sangat yakin dengan itu, kita pasti bertemu. Tinggal soal waktu saja. Mungkin saja waktu belum mau diajak berkompromi. Tapi suatu saat nanti pasti mau. Tuhan yang akan mengatur waktu itu agar mau berkompromi dengan kita, suatu saat nanti. Yakin aja deh!

Membicarakan tentang pertemuan. Ternyata ada banyak kisah pertemuan yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya. Mungkin juga kisah tersebut sama hal nya dengan kisah pertemuan aku dan kamu suatu saat nanti. Iya, kamu … tulang rusuk-ku yang sempat hilang dulu.

Kisah pertemuannya sendiri menurutku bermacam-macam, ada yang biasa saja. Ada juga yang luar biasa. Misalkan saja, kisah pertemuan ustadz ‘X’ dengan istrinya. Menurutku kisahnya terbilang unik dan luar biasa. Kamu pasti kenal dengan ustadz yang satu ini. Beliau sangat aktif dalam menulis. Banyak buku best seller yang sudah diterbitkan. Beliau bertemu dengan jodohnya ketika berada di salah satu gerbong kereta. Saat itu beliau sedang tidak enak badan. Hingga akhirnya, beliau bersin dengan tak ketinggalan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ setelah bersinnya. Tiba-tiba terdengar ucapan doa ‘Yarhamukallah’ oleh seseorang, beberapa langkah dari tempat duduknya. Dan beliau juga balik mendoakan dengan ucapan doa, ‘Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum’. Beliau kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan berusaha mencari sumber suara seseorang tadi. Ternyata seorang wanita berjilbab lebar tersenyum ke arahnya. Hingga akhirnya, beliau menghampiri wanita tersebut dan meminta alamat wanita itu. Apa yang terjadi? Beberapa bulan setelah kejadian itu, beliau datang kerumahnya dan hendak melamarnya. Hanya gara-gara bersin, Tuhan ternyata menunjukkan jodohnya. Mempertemukan Adam dan Hawa dalam versi lain dari pendahulunya.

Kisah pertemuan lain, juga ada yang menggunakan konsep “Witing Tresno Jalaran Saka Kulino”. Seperti yang terjadi, di kalangan para aktivis kampus. Mereka saling suka hingga memutuskan menikah, karena terbiasa bertemu dalam rapat organisasi. Atau kisah para pengajar TPA/TPQ yang menikah karena terbiasa bertemu ketika mengajar. Meski ketika beraktivitas bersama tidak ada yang spesial, atau biasa saja. Tapi, akhirnya si laki-laki berani langsung melamar ke rumah orang tua si wanita. Dan masih banyak lagi kisah pertemuan, dari mulai dijodohkan, melakukan proses ta’aruf, atau karena memang sudah sahabat dekat sejak kecil. Tetapi yang terpenting, bagaimana kita melakukan proses terbaik dalam menjemput jodoh kita.

Tapi kira-kira bagaimana denganku ya? Hingga saat ini, aku juga masih belum tahu. Dan mungkin kamu juga belum tahu. Biarlah Tuhan yang akan memberitahu kalau waktunya sudah tiba. Karena Tuhan yang maha memiliki atas diriku. Begitu juga dirimu. Benar kan?

Puji Utomo

Twitter: @cak_puji

Facebook: Puji Utomo

Email: mr.pujiutomo@gmail.com

Tentang Jodoh

Bagaimana perasaanmu ketika wanita yang selama kita kagumi menikah dengan orang lain? Sedih itu pasti. Kecewa juga iya. Tetapi, apakah itu karakter orang yang beriman? Bukan! Orang yang beriman harusnya berhati yang luas bahkan seperti lautan samudera atau langit biru di atas sana. Kita harusnya menyadari bahwa jodoh ada di tangan Allah. Sudah diatur jauh sebelum kita diangkat jadi manusia bumi. Pertanyaannya, masihkah kita harus menolak takdir itu?

Ingatlah! Ketika Muhammad sang Nabi pernah bersabda, “… Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya …” (HR. Bukhari dan Muslim)

Galau. Kata ini mungkin begitu istimewa di benak kita, para pecinta. Para pecinta yang kecewa ditinggal oleh wanita yang dicintainya selama ini. Kini wanita itu berdiri di pelaminan bukan dengannya. Tapi orang lain—yang telah digariskan Allah menjadi imam bagi wanita itu. Aku masih ingat ketika penulis buku “Ephemera” pernah mengatakan: “Cinta sejati itu adalah cinta segitiga sama kaki antara aku, kamu, dan Tuhan. Dan yang pasti, Tuhan berada di puncak sebagai tujuan yang membuat aku dan kamu menjadi berdampingan. Karena alur setiap cerita cinta di pegang oleh Tuhan, maka mintalah hanya pada-Nya ending seperti apa yang kamu inginkan?” Nah… kalau sudah seperti ini mengapa harus galau? Bukankah Allah mewasiatkan kita untuk bersabar terhadap takdir yang telah terjadi. Allah ingin tahu sejauh mana diri kita dalam menghadapi ujian. Apalagi hanya sekedar urusan cinta.

Seperti yang disampaikan Allah dalam firman-Nya: ”Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad [47]: 31)

Baca lebih lanjut

Kesabaran yang Tak Berbatas

Jauh sebelum Muhammad sang nabi terakhir dilahirkan ke dunia. Bahkan ratusan tahun sebelumnya, aku tak tahu persis entah tahun ke berapa. Ada seorang laki-laki pilihan Allah yang diberikan mandat untuk menyebarkan risalah kebenaran pada zamannya dan kepada umatnya. Dia sama halnya dengan Muhammad, seorang Rasul utusan Allah untuk menyeru kebaikan kepada anak Adam dan Hawa pada masanya.

Di masa tuanya, ya mungkin sekitar 80-an. Walaupun usia segitu sebenarnya belum bisa disebut tua pada zaman tersebut. Ya, anggap saja seperti itu. Lelaki pilihan itu mendapatkan ujian begitu dasyatnya dari Allah. Namun, sekali lagi bukan lelaki pilihan namanya, kalau lelaki itu tak berhasil melewati ujian itu. Ini adalah tentang ujian kesabaran, yang mengajarkan kita banyak hal, bahwasanya Allah sengaja memberikan ujian kepada manusia untuk mengetahui kualitas amal dan kepribadiannya. Sejauh apa mereka akan bertahan dan bagaimana mereka menghadapi ujian itu? Allah sudah mengabarkan dalam firman-Nya:

”Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad [47]: 31)

Suatu ketika, lelaki itu ditimpa oleh musibah yang tak diduga sebelumnya. Bahkan terbilang aneh pada masa itu. Lelaki itu mengidap penyakit kulit yang mengakibatkan sekujur tubuhnya rusak, tak berbentuk lagi. Penyakit ini tergolong penyakit yang menular dan dapat membunuh secara perlahan pengidapnya. Bisa dibilang penyakit ini termasuk penyakit mematikan dan belum tahu apa penyebabnya, begitu juga bagaimana menyembuhkan. Berbagai cara dilakukan, tetap saja belum berhasil. Tak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan. Bahkan lelaki itu jatuh miskin setelah hampir beberapa tahun penyakit ini bersarang di tubuhnya.

Tak hanya itu, penyakit ini juga telah menular kepada seluruh putrinya. Hingga akhirnya, 9 orang putri tercintanya terenggut nyawanya. Tak kuat bertahan melawan penyakit yang ganas itu. Hanya tinggal tersisa istri yang masih setia menemani dan merawat lelaki itu. Namun, perlahan kehidupan mereka berubah total. Kini mereka tak lagi jadi orang kaya. Harta mereka habis untuk mengobati penyaki ini. Tapi belum juga terlihat tanda-tanda lelaki itu sembuh dan terbebas dari belenggu penyakit itu. Justru semakin parah dan bisa saja menular ke warga kampung, dan tentunya akan bernasib yang sama dengan putrinya. Meninggal dengan mengenaskan.

Baca lebih lanjut

Laskar Nakula

Foto bersama keluarga besar laskar nakula

Foto bersama keluarga besar laskar nakula

Aku tak pernah menyangka saja. Kalau Tuhan memberikan kesempatan itu padaku. Hidup bersama kalian se-asrama adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan hadiahkan kepadaku. Tak pernah terpikirkan bahkan bermimpi sekalipun sebelumnya. Ya… hidupku begitu mengalir waktu itu seperti aliran air di sungai. Tak bisa lurus. Sesekali harus menerima kenyataan, karena harus berbelok oleh batu karang ujian kehidupan. Namun, bersama kalian aku tak takut lagi melawan arus kehidupan. Aku mulai berani bermimpi, berani beraksi, bahkan satu per satu mimpi itu tercapai. Memang belum semua bisa tercapai. Tapi… setidaknya aku sudah tak takut lagi. Aku sudah berani memperjuangkannya. Dan itu semua juga buah dari kebersamaan kita semua di asrama. Canda tawa. Kesedihan. Kekecewaan. Kebahagiaan. Pertikaian. Semuanya telah menjadi bumbu cerita yang mungkin akan terkenang sepanjang masa. Terimakasih telah menemaniku dua tahun yang indah ini. Banyak hal yang ingin kuungkapkan sebenarnya, tapi bibirku sulit berbicara dan tanganku juga tak mampu menuliskannya. Cukuplah hati ini saja yang berbicara dan menyimpan betapa besarnya rinduku pada kalian semua.

Uhibbukum fillah laskar nakula…

Sahabat Sc8

Terimakasih telah menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidupku. Kalian mengajarkanku banyak hal tentang prinsip hidup. Terimakasih Sc8! Kalian sudah seperti keluargaku sendiri. Semoga kelak kita bisa bersama lagi seperti dulu. Genap ber-24! Dan… aku ucapkan selamat karena sebentar lagi, salah satu dari kita (yang jelas bukan aku) sudah ada yang menggenapkan setengah agamanya. Semoga momen bersejarah itu bisa mempertemukan kita semua lagi. Sampai ketemu di hari bersejarah itu. Semoga saja!

Puji Utomo

Twitter: @cak_puji

Facebook: Puji Utomo

Email: mr.pujiutomo@gmail.com

Bahagia Tanpamu

Bertemu kembali denganmu adalah episode lanjutan dari episode yang terlewatkan 2 tahun yang lalu. Karena mungkin episode yang dulu belum sampai pada ending-nya. Tuhan sebagai sutradara masih ingin melihat kita bersama. Seperti halnya, sebelum episode yang dulu sempat bersambung sementara. Tapi… kini kita kembali lagi dipertemukan dalam episode baru. Aku tak tahu harus memulai dari mana, hingga akhirnya sampai pada ending-nya. Meski sebenarnya Tuhan yang berhak menentukan ending seperti apa yang pantas untuk kita. Bersamamu atau tanpamu? Tak soal. Toh, kita hanya pemeran dalam sandiwara dunia. Dan Tuhan adalah sutradara, yang tahu apa yang terbaik buat kita.

Jika kamu melihat ke atas sana, lihat saja langit masih biru, masih sama sejak pertama kali diciptakan. Atau kamu bisa lihat bagaimana beningnya embun pagi yang membasahi dedaunan. Masih sama dan belum berubah. Begitu juga denganku, lihat saja aku belum berubah. Masih sama sejak pertama kali kita bertemu. Masih saja selalu mengagumimu meskipun kamu tak pernah tahu tentang itu. Karena aku belum pantas berada di salah satu sudut ruang hatimu. Ya… setidaknya aku bisa sedikit bahagia karena punya lagi kesempatan bertemu kamu.

Aku dan kamu yang masih tampak malu. Berharap cemas, menunggu kuasa dari langit datang dengan membawa kabar gembira. Kabar tentang bagaimana ending-nya cerita cinta kita.

Bahagia…?

…Mungkin kita bahagia tanpa harus saling bersama. Itulah ending-nya dari episode baru ini.

Aku masih mengingat sebuah quote dalam salah satu film Taiwan seperti ini:

“Ketika kamu benar-benar suka sama wanita, dan melihat wanita itu dicintai oleh orang lain, maka hati kecil kamu akan berkata kamu pasti akan mendoakan kebahagiaan untuk orang itu.” (sebuah quote dari film You are The Apple of My Eye).

Puji Utomo

Twitter: @cak_puji

Facebook: Puji Utomo

Email: mr.pujiutomo@gmail.com

Karena Wanita itu Begitu Rapuh

“Aku menjadi sebait puisi yang kesepian. Semakin ku coba bernyanyi, kian sesak hatiku. Sabda-sabda cintaku, kini serasa tak bermakna lagi. Adalah ketika yang kusanjung tak memiliki arti bahasa hati.”

(Leni—Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

Entah kenapa aku tersenyum sendiri ketika Leni—salah seorang pemeran film Ketika Tuhan Jatuh Cinta ini mengatakan kalimat seperti ini. Bukan karena aku sedang mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami Leni dalam film ini. Ah, bukan. Tapi… aku mencoba berpikir, apakah sebenarnya wanita itu begitu rapuhnya soal perasaan? Hanya karena lelaki yang selama ini disanjungnya, tak pernah menangkap isyarat cinta dalam hatinya. Ya, aku sendiri tak berharap, kalau hal ini berlaku untuk kebanyakan kaum wanita.

Mungkin aku termasuk orang yang minder dalam urusan hati. Meski untuk menutupi hal itu, aku sendiri beralasan “aku ingin menjaga hati”. Wajar saja, aku termasuk orang yang kaku di hadapan wanita. Bukan karena merasa tak pantas. Tapi… apa yang bisa disanjung dari sosok sepertiku? Kalau ada, mungkin itu biasa-biasa saja. Ya, mungkin tak ada sosok Leni lain yang akan melakukan hal yang sama, hanya karena mengagumiku. Kalaupun ada, aku harap tidak akan melakukan seperti halnya Leni. Emang, aku siapa? Walaupun porsentasenya kecil, kemungkinan saja ada. Jauh-jauh hari sebelumnya, aku mencoba mengingatkan saja. Aku sendiri merasa sedih, apalagi kalau melihat wanita seperti ini.

Terkadang kejadian seperti halnya yang dialami Leni, kerap juga dialami oleh kaum wanita bahkan tidak menutup kemungkinan kaum pria juga mengalaminya. Seringkali dari kita terlalu dini untuk menerka apa itu cinta, khususnya antara lawan jenis. Memang kalau dipikir-pikir, cinta itu adalah naluri manusia. Tak bisa dielakkan. Sudah menjadi tabiat manusia untuk memiliki perasaan cinta. Apalagi ketika mulai menginjak dewasa. Tapi… sekali lagi yang perlu kita lakukan adalah bagaimana membingkai cinta itu menjadi sebuah ibadah yang bernilai pahala.

Baca lebih lanjut

Berbakti pada Orang Tua

“…Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (Al Isra’ : 23)

Begitulah wasiat Allah di dalam kita suci, agar kita semua senantiasa berbakti kepada orang tua. Memang tak dijelaskan secara rinci apa itu makna kebaikan yang dimaksud? Namun, kita meyakini bahwa kebaikan meliputi berbagai hal dari mulai perbuatan, perkataan, bahkan tidak menyakiti orang tua. Betapa besarnya jasa orang tua, sehingga Allah saja memerintahkan kita untuk berbakti kepadanya. Pertanyaannya, maukah kita menjemput seruan itu atau justru mengabaikan seruan itu?

Beberapa minggu yang lalu, kita mendengar bahwa seorang anak di Brebes Jawa Tengah tega membunuh kedua orang tuanya lantaran tidak dibelikan motor. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Bandung bulan Maret lalu, seorang anak membunuh kedua orang tuanya demi harta waris. Kasus seperti ini bahkan sering terjadi. Sungguh, tak habis pikir. Mengapa seorang anak begitu tega, hanya dengan alasan materi duniawi. Apa mereka tak pernah menyadari bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Muhammad Sang Nabi pernah bersabda artinya, “Maukah aku tunjukkan pada kalian dosa besar yang paling besar? Menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, …” (HR. Bukhari)

Baca lebih lanjut

And The Winner is Me…

And The Winner is Me…

Lantunan suara azan dan iqomat dikumandangkan dengan lantang oleh seorang lelaki—yang sedang berbahagia menyambut kedatangan manusia baru. Siapa lelaki itu gerangan? Dan siapa pula manusia baru itu? Hm… lelaki itu kini sudah punya jabatan baru sebagai seorang ‘Ayah’. Sebuah jabatan yang menuntut amanah yang berat darinya. Mengapa? Karena kini dia punya tanggung jawab satu lagi, menyiapkan Generasi Rabbani tumbuh menjadi pemimpin kelak.

Dan… manusia baru sendiri itu adalah ‘Aku’. Aku yang terlahir begitu sempurna melalui proses seleksi kuasa Tuhan yang luar biasa. Hingga akhirnya, aku terpilih dan terlahir sebagai Sang Juara dari jutaan lawan yang tak mau kalah begitu saja.

Sekali lagi… aku ingin berteriak dengan lantang, “Aku adalah Sang Juara.”

Bagaimana bisa? Aku jawab jelas bisa! Aku ini berasal dari ciptaan Tuhan yang luar biasa dari jutaan bahkan milyaran sel sperma ayahku. Mereka saling berkompetisi seperti lomba lari maraton , dimana garis start-nya dimulai dari testis ayahku dan berakhir di ovarium ibuku. Mereka tak kenal kawan, yang ada hanya lawan dengan satu tujuan yang jelas. Hanya ada satu akhirnya yang sampai. Lalu bertemulah sel sperma terpilih dan sel ovum. Tak hanya berakhir sampai disitu. Mereka saling berproses bersama untuk menjadi janin manusia. Menggantung di dinding rahim ibuku. Menjadi benalu disana selama 9 bulan. Atas ijin dan pertolongan Tuhanku, akhirnya aku resmi diangkat jadi manusia bumi untuk pertama kalinya. Aku menangis waktu itu karena mungkin tak menyangka diberikan kesempatan hidup di bumi manusia. Itu adalah dunia kompetisi pertamaku, dan aku terpilih sebagai pemenangnya. Sebagaimana kitab suci pernah mengabarkan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nuthfah (sperma) yang bercampur (dengan ovum perempuan) yang kami berikan ujian (kepada)-nya” (Q.S. Al-Insan: 1)

Baca lebih lanjut