Pertemuan

you-and-me_large

Tuhan mempertemukan jodoh kita dengan caranya masing – masing. Ada yang bertemu dengan cara biasa saja, ada juga yang luar biasa, bahkan ada pula yang tidak terduga. Kadang pula, kita dipertemukan lewat pertemanan yang panjang. Ada pula, yang baru dipertemukan melalui sebuah perkenalan, baik berkenalan sendiri ataupun dikenalkan oleh orang lain. Bahkan di era digital seperti ini, ada pula yang dipertemukan lewat sosial media. Apalagi sekarang juga mulai banyak yang menawarkan jasa, semacam biro jodoh.

Lalu, bagaimana aku dan kamu nanti?

Beberapa hari yang lalu, aku bertanya pada Bapak. Bagaimana Bapak dulu dipertemukan dengan Ibuku, hingga akhirnya mereka menikah.

“Dulu, pertama kali bertemu dengan Ibumu, bapak langsung jatuh cinta sama Ibumu. Dulu Ibumu seorang pedagang pakaian keliling di kampung – kampung. Ibumu cantik waktu masih muda dulu. Bapak terus minta dikenalkan dulu sama Ibumu. Tidak sampai lama, Ibu menerima Bapak. Ya, akhirnya menikah. Walaupun saat itu banyak laki – laki lain, yang juga naksir sama Ibumu. Wajar saja, Ibumu termasuk kembang desa di kampung. Bahkan ada pula beberapa kerabat keluarga Ibumu yang menolak Bapak. Karena Bapak waktu itu dari keluarga sederhana dan secara fisik tidak terlalu ideal. Tapi Ibumu tetap yakin menerima Bapak.”

“Hmmm… Jadi tidak perlu ada berpacaran dulu kayak anak muda zaman sekarang ya Pak.”

“Iya, kalau mau seperti Bapak dulu ya tidak perlu berpacaran. Yang paling penting itu, temui baik – baik anaknya, sekalian orang tuanya juga tidak apa – apa. Kalau memang kamu mau memperjuangkan anak itu, iya harus dengan cara istimewa dan terhormat. Belajarlah untuk memperlakukan cinta dengan bijaksana. Mereka pasti senang dengan laki – laki yang memperlakukan putrinya dengan cara yang santun. Percaya deh sama Bapak.”

Tiba – tiba Bapak justru balik bertanya denganku,

“Apa sudah ada seorang perempuan yang membuatmu jatuh cinta, Nak?”

“Hmmm…ada sih Pak. Gadis berjilbab biru yang pernah aku ceritakan ke Bapak. Tapi, aku belum cukup berani kalau seperti Bapak dulu.”

“Nak, sesuatu yang sering dilupakan oleh banyak manusia itu tidak gegabah dan terburu – buru. Kalau memang belum yakin tidak perlu menampilkan isi hati. Cintailah dalam diam. Berharaplah melalui doa – doamu. Berhati – hati dalam berucap apalagi urusan dengan perempuan. Cinta akan menjadi sebuah keindahan bila diikuti dengan tingkah laku yang santun dan memperlakukan perempuan dengan cara yang istimewa.”

Keesokan harinya setelah hari itu, aku pamit ke Bapak dengan sedikit terburu – buru.

“Mau kemana, Nak?”

“Aku ingin memperjuangkan seseorang dengan cara yang istimewa dan terhormat, Pak.”

“Siapa?”

“Dia, Pak. Gadis berjilbab biru.”

“Hmmm… Dasar Anakku. Mirip sama Bapaknya.“

“Selamat berjuang, Nak. Jadi anak laki – laki Bapak yang baik.”

@Prambanan, 25 November 2016

 

Bahagia itu Sederhana ?

Kata Bapak “Bahagia itu sederhana… sesederhana bisa berkumpul dengan anak – anaknya.”  Tapi toh kenyataaannya tidak sesederhana itu. Sudah lama bapak tidak berkumpul dengan anak – anaknya. Ketika anak – anaknya sudah berkeluarga, bapak rindu sekali berkumpul lagi dengan mereka. Tapi sayang… banyak anak yang enggan berkumpul lagi.

Kata Ibu “Bahagia itu juga sederhana… sesederhana bisa melihat anak – anaknya jadi orang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang lain.” Lagi – lagi tak sesederhana itu. Buat jadi orang yang sukses butuh kerja keras. Buat jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, setidaknya juga harus selesai dengan urusan pribadi. Tapi sayang… banyak anak yang enggan kerja keras, alhasil lebih mengandalkan kepunyaan orang tua mereka.

Kata seorang suami “Bahagia itu juga sederhana… bisa setiap hari berkumpul dengan istri dan anak – anaknya.” Kenyataannya juga tak sesederhana itu. Banyak suami yang harus LDR dengan istri dan anak – anaknya karena urusan pekerjaan. Seorang suami yang bekerja di perkapalan atau pertambangan, tentu tidak bisa setiap saat bertemu dengan mereka. Tapi sayang… banyak suami yang setiap hari bisa berkumpul dengan istri dan anak – anaknya, tetap saja tidak merasa kebahagiaan karena alasan yang bermacam – macam.

Bagiku… bahagia itu (tak lagi) sederhana. Kebahagiaan itu butuh diikhtiarkan, tidak serta merta datang begitu saja. Justru yang paling penting adalah bersyukur sebanyak – banyaknya. Karena kebahagiaan dan kesedihan di dunia hanya sementara, cukup dimaknai dengan sewajarnya saja. Jadilah hamba – hamba yang bersyukur… begitu pesan Tuhan buat kita. Biar makin berkah dan ditambah nikmatNya pula, begitu janjiNya. Dan sebaliknya kalau justru kita makin sombong, jangan harap ditambah nikmatNya, bisa saja Tuhan akan datangkan azab buat kita. Lagi – lagi itu janjiNya, di dalam firmanNya.

@Prambanan, 24 November 2016