Biar Foto Bicara

Beberapa hari yang lalu, salah satu fotografer Hidayatullah mengambil foto salah seorang murid madrasah di Balikpapan menikmati sebotol air minum ketika dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki dari sekolahnya.

Bagi saya, foto semacam ini bisa menjadi pelajaran yang sederhana tapi sungguh sangat berharga, dan sarat akan makna. Menjadi pelajaran bagi kita yang sudah tak lagi belia, dari mereka yang jauh lebih belia dari kita.

Ya, ini semacam…Tamparan keras! Telak mendarat di pipa kita. Menjadikan pipi kita merah padam. Marah? Ya, kita memang harus marah pada diri kita. Agar kita sadar dan semakin sadar bahwa kita memang harus lebih banyak belajar dari mereka yang sebenarnya jauh lebih belia dari kita. Alih-alih, yang seharusnya kita memberikan teladan dan adab bagi mereka yang belia, tapi ternyata realita berkata sebaliknya. Kita memang harus belajar dari mereka, guru-guru kecil kita.

“Jangankan duduk, kadang kita makan dan minum saja menggunakan tangan kiri, berdiri dan lupa baca doa atau minimal membaca basmallah. Justru yang seperti ini menjadi budaya, padahal rasul Muhammad mengajarkan kita bagaimana adab makan dan minum yang baik” Astaghfirullah…

Biarkanlah foto ini bicara, mengungkapkan makna dan hikmah kepada siapa saja yang mau mengambilnya…

Kepada mereka, para orang tua, sudah sejauh apa mereka mendidik putra-putri mereka tumbuh dengan akhlak yang baik? Sudah sejauh apa mereka mengajarkan bagaimana adab dalam islam termasuk dalam hal yang sederhana, urusan makan dan minum? Atau mungkin adab-adab sederhana yang lain seperti bagaimana menuntut ilmu, bagaimana tidur dan bangun tidur, bagaimana masuk dan keluar rumah, dan adab-adab sederhana lainnya?

Kepada mereka, para calon orang tua, sudah siapkah kita kelak akan dibebani karunia berupa anak? Meskipun sebenarnya itu juga bagian dari ujian bagi kita. Bagaimana kita mendidiknya kelak, tentu berdampak bagaimana anak kita di masa depan nanti? Apakah akan tumbuh sebagai generasi rabbani atau justru sebaliknya? Bukankah pendidikan pertama seorang anak adalah dari orang tuanya, terutama ibunya.

Kepada mereka, para kaum dewasa, yang sudah terlena karena budaya modernisasi hingga melunturkan adab-adab yang diajarkan dalam islam. Meski sebenarnya mereka sadar akan hal itu, tapi enggan untuk melakukannya. Semoga adek-adek ini bisa menjadi guru-guru kecil kita tentang bagaimana akhlak yang baik, harus dipertahankan dalam kehidupan kita di tengah budaya globalisasi seperti saat ini.

Dan kepada mereka, adek-adek kecil kita. Contohlah adek-adek ini, bagaimana mereka menjaga adab dalam islam karena dilandasi dengan iman dan akhlak yang baik. Tanpa hal itu, adek-adek akan tumbuh menjadi pribadi yang tercela. Tak mau kan? Ingin kan jadi generasi yang sholih dan menjadi kebanggaan buat kedua orang tua? Karena doa anak yang sholeh akan merupakan amalan yang tak terputus dari orang tua ketika meninggalkan dunia.

Sekali lagi…Biar foto ini bicara lebih banyak lagi…

Kepada siapa saja…, tentang sejauh apa akhlak putra-putri Indonesia? Moral bangsa? Berapa banyak putra-putri kita yang sadar untuk melakukan hal sesederhana ini?

Termasuk saya, semoga kelak diberikan kesempatan untuk mendidik mereka, anak-anak yang sholih dan sholihah. Guru-guru kecil…Terimakasih sudah menyadarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Klaten l 5 Desember 2015 @penabirru

3 respons untuk ‘Biar Foto Bicara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s