Versi Baik Ayah

Aku sadar. Kamu pun harusnya lebih sadar. Sekarang kamu itu bukan lagi anak remaja atau ABG. Kamu sudah semakin dewasa saja. Umurmu juga sudah berkepala dua. Bagi seorang ayah tentu ingin melihat anaknya bahagia. Dan kali ini tentang kebahagiaan kamu, anak perempuan pertamanya. Emm…apalagi kalau bukan urusan pasangan hidup untuk anaknya. Setiap ayah akan menyadari bahwa akan tiba waktunya untuk melepaskan anak perempuannya. Ketika ada laki-laki yang berani mengetuk pintu rumahnya, dan minta ijin kepada ayah untuk melepaskan putrinya… katanya laki-laki itu, ingin mengambil alih tanggung jawab menjaga atas putrinya. Lantas, apakah dengan mudah ayah akan menerima? Tentu tidak kan…seorang ayah tentu hanya akan melepaskan putrinya untuk lelaki yang baik saja.

Ah…Apakah seperti aku misalnya? Entahlah…

Di era seperti saat ini, laki-laki baik memang langka ketersediaannya. Persentasenya mungkin lebih sedikit dari laki-laki yang kurang baik. Ayah akan merasa was-was kalau salah menerima laki-laki yang pantas untuk putrinya. Karena menikah bukan tentang urusan kebahagiaan sesaat saja di dunia, tetapi juga tentang urusan akhirat bagi putrinya dan cucu-cucunya. Seorang laki-laki adalah imam bagi keluarga. Seorang imam harus menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Tak mungkin, ayah menerima laki-laki yang tak bisa jadi imam yang baik buat putrinya. Ayah juga tak mungkin rela, sekalipun putrinya sangat menyukai laki-laki itu. Setidaknya aku sangat mengerti bahwa lagi-lagi ayah hanya akan menerima lamaran bagi laki-laki baik saja.

Ah…Apakah seperti aku misalnya? Emm…Mungkin saja. Entahlah…aku pun akhirnya memberanikan bertanya.

“Kata ayah, laki-laki yang baik buat menjaga kamu itu, laki-laki yang seiman, bertanggung jawab, memberikan bukti bukan janji, mau menerima apa adanya putrinya, sayang terhadap keluarga, dan siap untuk susah senang bersama.”

Emm…mungkin aku bisa mengusahakan jadi laki-laki yang baik kalau kata ayah seperti itu. Mataku bercahaya, setidaknya ada semangat untuk membuktikan pada ayah, kalau aku bisa dapat label laki-laki yang baik dan pantas untuk menggantikannya dalam menjaga putrinya. Iya… kamu maksudnya, putri kesayangan ayah. Aku ingin menggantikan ayah untuk menjagamu, melindungimu, dan memimpinmu, entah itu dalam urusan duniawi maupun akhirat Tapi…apakah ayah dan kamu akan mau?

Entahlah…aku sudah siap dengan segala keputusan ayah dan juga kamu. Aku tak berhak berharap lebih atau bahkan memaksakan kamu akan menerimaku. Ah, bukan! Meski aku tak bisa membohongi perasaanku, kalau aku memang sedikit berharap kamu menerimaku. Itu saja. Menurutku itu wajar, bukankah kalau cinta harus diperjuangkan? Karena menurutku ‘jatuh cinta’ saja tidak cukup. Modal hanya cinta juga tidak baik. Aku ingin memperjuangkan cintaku dengan cara yang baik. Datang ke rumahmu, lalu ketuk pintu rumahmu dan juga pintu hatimu, dan meminta ijin ayah dan ibumu untuk melamarmu? Bukankah itu yang diajarkan oleh kisah para pendahulu? Karena jodoh itu bukan hanya bertemu, tapi juga bertamu di rumahmu dan meminta ijin ke orang tuamu. Bukan hanya sekedar bilang, “Maukah kamu jadi pacarku?” Bukankah akan lebih elegan, kalau aku bilang, “Maukah kamu jadi pasangan halalku?”

Terserah kamu. Aku hanya bisa berusaha jujur tentang perasaanku….

Terinspirasi dari tulisan mas gun disini http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/121853204077/cerpen-versi-baik-ayah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s